Skip to content
Senin 11 Mei 2026

Ngeri! Film “Aku Harus Mati” Bongkar Sisi Gelap Pinjol dan Flexing

Redaksi Sindo Nasional April 2, 2026

Jakarta – Film horor terbaru Aku Harus Mati hadir dengan pendekatan berbeda dengan mengangkat sisi gelap gaya hidup modern, mulai dari fenomena flexing hingga jeratan pinjaman online (pinjol) yang kian marak di masyarakat.

Disutradarai Hestu Saputra, film ini tidak hanya menyuguhkan teror mistis, tetapi juga menyoroti tekanan sosial yang membuat seseorang rela “mengorbankan diri” demi pengakuan dan status.

“Film ini adalah refleksi dari fenomena ‘jual jiwa demi harta’ yang marak di sekitar kita. Teror sesungguhnya dimulai ketika manusia kehilangan kendali atas dirinya sendiri demi memuaskan gaya hidup,” ujar Hestu dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (2/4/2026).

Menurutnya, maraknya praktik pinjol dan normalisasi gaya hidup konsumtif di media sosial menjadi keresahan utama yang diangkat dalam film ini. Ia menilai kondisi tersebut telah menjadi masalah bersama yang sering luput dari kesadaran publik.

Executive Producer Irsan Yapto menambahkan, tekanan untuk terlihat sukses di era digital menjadi pemicu utama munculnya perilaku instan yang berisiko.

“Di era modern, banyak orang merasa harus terlihat berhasil dan diakui. Tekanan itu kadang membuat seseorang tergoda mencari cara instan untuk mencapai kesuksesan,” katanya.

Film ini juga memotret pinjol sebagai bentuk “pesugihan modern”, di mana tumbal tidak lagi berbentuk fisik, melainkan hilangnya ketenangan, kesehatan mental, hingga kehancuran hidup secara perlahan.

Dibintangi Hana Saraswati dan Amara Sophie, Aku Harus Mati dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai April 2026. Selain menghadirkan ketegangan, film ini diharapkan menjadi pengingat akan bahaya gaya hidup semu dan keputusan finansial yang tidak bijak di era digital.

Share: