Jakarta – Dampak perang di Timur Tengah tak hanya mengguncang pasar energi global, tetapi juga mulai mengancam ketahanan pangan dunia. International Monetary Fund (IMF) menyoroti lonjakan harga pupuk dan potensi penurunan hasil panen sebagai risiko serius yang dapat memperburuk kondisi negara berpenghasilan rendah.
Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyebut gangguan distribusi pupuk akibat konflik telah memicu kenaikan harga signifikan, dengan urea melonjak sekitar 50% dan amonia naik 24%. Kondisi ini dinilai krusial karena terjadi bersamaan dengan musim tanam di Belahan Bumi Utara.
Menurut IMF, sekitar sepertiga perdagangan pupuk global bergantung pada jalur laut di kawasan konflik. Terganggunya distribusi membuat pasokan tersendat dan berisiko menekan produktivitas pertanian global dalam waktu dekat.
“Dampaknya tidak berhenti pada sektor energi. Kita melihat tekanan besar pada rantai pasok pangan yang bisa berujung pada krisis yang lebih luas,” ujar Georgieva, Selasa (7/4/2026).
IMF memperingatkan, negara berpenghasilan rendah menjadi pihak paling rentan. Dengan porsi belanja rumah tangga untuk pangan mencapai sekitar 36%, kenaikan harga berpotensi langsung menggerus daya beli masyarakat dan memperparah kemiskinan.
Selain itu, tekanan pada sektor pangan dinilai memiliki efek berantai terhadap stabilitas sosial. IMF menilai lonjakan harga bahan pokok kerap menjadi pemicu ketegangan, terutama di negara dengan ketahanan ekonomi yang lemah.
Di sisi lain, gangguan energi akibat konflik di jalur strategis seperti Selat Hormuz tetap menjadi faktor utama pemicu inflasi global. Namun IMF menekankan bahwa krisis pangan yang menyusul bisa menjadi dampak jangka panjang yang lebih dalam dan luas.
Dengan risiko yang semakin kompleks, IMF mengingatkan perlunya respons cepat dari komunitas global untuk menjaga stabilitas pasokan pangan dan melindungi negara-negara paling rentan dari dampak berlapis konflik geopolitik.
