Skip to content
Senin 11 Mei 2026

Kebijakan Kripto Iran di Selat Hormuz Bisa Ubah Peta Perdagangan Minyak Dunia

Redaksi Sindo Nasional April 9, 2026

Jakarta – Kebijakan baru Iran yang mewajibkan pembayaran biaya transit minyak menggunakan Bitcoin di Selat Hormuz memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Skema sebesar 1 dolar AS per barel itu dinilai bukan sekadar pungutan, melainkan instrumen geopolitik yang berpotensi mengubah dinamika perdagangan minyak dunia.

Ekonom energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis, Sarah Mills, menilai kebijakan ini sebagai langkah strategis Iran untuk menghindari tekanan sanksi internasional. “Penggunaan Bitcoin memberi Iran jalur alternatif di luar sistem keuangan global yang selama ini membatasi mereka,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (9/4/2026).

Hal senada disampaikan analis komoditas senior di Goldman Sachs, David Harper, yang melihat kebijakan ini sebagai bentuk “pajak geopolitik” baru. “Nilainya memang kecil, tetapi dampaknya bisa besar jika memicu preseden atau diikuti negara lain di jalur energi strategis,” katanya.

Selain menambah biaya, Iran juga memperketat kontrol dengan mewajibkan verifikasi data muatan kapal sebelum melintas. Setelah disetujui, kapal hanya diberi waktu singkat untuk menyelesaikan transaksi kripto. Mekanisme ini dinilai memberi Iran kendali lebih besar atas arus distribusi energi global.

Di tengah kebijakan tersebut, pasar minyak merespons fluktuatif. Brent crude oil sempat turun ke kisaran 94 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate berada di sekitar 95 dolar AS per barel, setelah sebelumnya melonjak akibat ketegangan dengan Amerika Serikat.

Direktur riset energi di Energy Aspects, Amrita Sen, menilai stabilitas harga saat ini masih rapuh. “Tambahan biaya ini bisa menjadi pemicu volatilitas baru, terutama jika situasi geopolitik kembali memanas,” ujarnya.

Kebijakan Iran ini sekaligus menandai pergeseran penting dalam penggunaan kripto di level negara. Bitcoin tidak lagi sekadar aset investasi, tetapi mulai digunakan sebagai alat transaksi dalam perdagangan komoditas strategis. Analis memperkirakan tren ini bisa mendorong peningkatan adopsi kripto, namun juga diiringi pengawasan regulasi yang lebih ketat secara global.

 

#bitcoin

 

Share: